This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Caving. Show all posts
Showing posts with label Caving. Show all posts

Sunday, 28 December 2014

Ada yang tau Nggak Terbentuknya Gua Bagaimana?

Mungkin semuanya pada bertanya-tanya bagaimanasi gua itu terbentuk, apabila penasan mari kita simak materi tentang terbentuknya gua...





Silahkan klick link dibawah untuk mendowload dokumen diatas....

Download

Sekian Postingan yang saya buat ini. semoga ini dapt menjadi pelajaran bersama dan kita bisa sukses bersama.

Saturday, 27 December 2014

Macam-macam Runtuhan, Gua, Dan Lorong

 BIG SINKHOLE

 COLLAPSE SHAFT

 DOME

 DOMEPIT

 SHAFT CHAMBER

 SLOPE

 SUMP

 GOA BATU PASIR

 GOA KARST

 GOA LAUT

 GOA LAVA

 GOA LERENG

 GOA PATAHAN

LORONG DUCK

 LORONG PHREATIC

 LORONG VADOSE


LORONG TRENCH

Friday, 26 December 2014

Definisi Big Sinkholes (Runtuhan)

Sinkholes asal kata dari gua runtuhan atau lubang runtuhan . gua ini terlahir (manusia kapan) oleh beberapa penyebab tertentu seperti :
1. Erosi,
2. Penhapusan bertahap sedikit larut batuan dasar (seperti kapur) oleh meresap air,
3. Runtuhnya atap gua,
4. Menurunkan dari tabel air.

Sinkholes tidak memiliki ukuran tertentu. Mulai dari kurang dari 1 meter sampai ratusan kilometer dalam diameter yang kedalamannya juga berpariasi. didalam pembentukan guaa runtuhan ini terjadi ntah berapa tahun dan berapa abad lamanya bahkan ada sinkholes yang terbentuk secara tba-tiba dan gua ini masih banyak ditemukan dan masih banyak pula yang tidak ditemukan oleh banyak orang di dunia ini.

Sinkholes sering terjadi di tempat-tempat berkapur yang biasa menamping banyak air di aquifer, yaitu lapisan tempat air dapat mengalir di bawah tanah.

Friday, 1 August 2014

Nama-nama gua VERTIKAL dan HORIZONTAL di daerah Sulawesi Selatan

Mari Kita Simak daftar Gua-gua yang ada di daerah kita masing masing. siapa tau kita bener-bener nggak tau gua yang selama ini udah pernah kita liat tapi, tidak kita ketahui bahkan namanya pun kita tidak mengetahuinya, olehnya itu melalui postingan kali ini saya menhimbau kepada semua pendakia pendaki mau guator agar kita membaca dengan simak dan mengamalkannya dengan seksama.....


GUA VERTIKAL

1. Lubang Leang Pute

Lebar Mulut Gua : 50 – 80 m

Kedalaman Gua : 200 – 270 m
Kondisi Gua : Vertikal (Long Pitch), Teras
Jenis Batuan : Batu Gamping
Lokasi : Dusun Pattiro, Desa Labuaja, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.

Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar – Maros (Rp 3.000-/ orang), Maros – Nahung (Rp 4.000-/orang)

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2011-32, Camba



2. Lubang Dinosaurus

Lebar Mulut Gua : 80-100 m

Kedalaman Gua : 150 – 180 m

Kondisi Gua : Vertikal (Multi Pitch), Teras

Jenis Batuan : Batu Gamping

Lokasi : Dusun Pattiro, Desa Labuaja, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.

Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Nahung (Rp 4.000-/orang)

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2011-32, Camba



3. Lubang K20

Lebar Mulut Gua : 2 – 5 m

Kedalaman Gua : 130 – 160 m

Kondisi Gua : Vertikal (Multi Pitch), Teras

Jenis Batuan : Batu Gamping

Lokasi : Kappang, Km.57, Kabupaten Maros.

Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Kappang (Rp 3.500-/orang)

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS



4. Lubang Tomanangna

Lebar Mulut Gua : 30 – 50 m

Kedalaman Gua : 190 m

Kondisi Gua : Vertikal (long Pitch)

Jenis Batuan : Batu Gamping

Lokasi : Dusun Langko,Kappang, Kabupaten Maros.

Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Kappang (Rp 3.500-/orang)

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS



5. Lubang Kapa-kapasa

Lebar Mulut Gua : 10 – 15 m

Kedalaman Gua : 210 m

Kondisi Gua : Vertikal (Multi Pitch),

Jenis Batuan : Batu Gamping

Lokasi : Dusun Kapa-kapasa, Kabupaten Maros.

Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Kappang (Rp 3.500-/orang)

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2011-32, Camba

6. Lubang Lantang Huu

Lebar Mulut Gua : 5 – 8 m

Kedalaman Gua : 50 m

Kondisi Gua : Vertikal (Long Pitch)

Jenis Batuan : Batu Gamping

Lokasi : Leang Rakko, Kabupaten Maros.

Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Pangia (Rp 3.000-/orang)

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS



7. Lubang Baba’

Lebar Mulut Gua : 2 – 3 m

Kedalaman Gua : 40 m

Kondisi Gua : Vertikal (Long Pitch)

Jenis Batuan : Batu Gamping

Lokasi : Desa Pangia, Kec. Simbang, Kab. Maros.

Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Pangia (Rp 3.000-/orang)

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS




8. Gua Padaelok

Lebar Mulut Gua : 5 – 10 m

Kedalaman Gua : 54 m

Kondisi Gua : Vertikal (Long Pitch + Slab 200), Teras

Jenis Batuan : Batu Gamping

Lokasi : Desa Pangia, Kec.Simbang, Kab.Maros.

Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Pangia (Rp 3.000-/orang)

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS






GUA HORIZAONTAL


1. Gua Patta

Jenis Gua : Horizontal (Slab ±300)

Kondisi Gua : Berair

Panjang Total Gua : ± 950 meter

Jenis Batuan : Gamping

etak Administratif : Leang Rakko, Desa Pangia, Kec. Simbang

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros

Transportasi : Makassar-Pangia (Rp. 6.000-/orang)

Waktu tempuh : ± 3 jam.

Base Camp : Leang Rakko, Maros

Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).

Sumber Air : Dalam Gua

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama



2. Gua Sammani

Jenis Gua : Horisontal

Kondisi Gua : Kering

Panjang Total Gua : ± 400 meter

Jenis Batuan : Gamping

Letak Administratif : Leang Rakko, Desa Pangia, Kec. Simbang

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros

Transportasi : Makassar-Pangia (Rp. 6.000-/orang)

Waktu tempuh : ± 3 jam.

Base Camp : Leang Rakko, Maros

Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan KapolresMaros).

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama



3. Gua Suleman

Jenis Gua : Horisontal

Kondisi Gua : Kering-Berlumpur-Berair

Panjang Total Gua : ± 850 meter

Jenis Batuan : Gamping

Letak Administratif : Dusun Pattunuang, Desa Samanggi Kec. Simbang

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros

Transportasi : Makassar-Pattunuang Asue (Rp. 5.000-/orang)

Waktu tempuh : ± 3 jam.

Base Camp : Bislab, Maros

Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).

Sumber Air : Sungai Pattunnuang

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama



4. Gua Saripa

Jenis Gua : Horisontal

Kondisi Gua : Kering-Berlumpur-Berair

Panjang Total Gua : ± 1200 meter

Jenis Batuan : Gamping

Letak Administratif : Dusun Ta’deang, Desa Samanggi Kec. Simbang

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros

Transportasi : Makassar-Ta’deang (Rp. 5.000-/orang)

Waktu tempuh : ± 3 jam.

Base Camp : Ta’deang, Maros

Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).

Sumber Air : Sungai Pattunnuang

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama




5. Gua Hamid

Jenis Gua : Horisontal

Kondisi Gua : Kering

Panjang Total Gua : ± 500 meter

Jenis Batuan : Gamping

Letak Administratif : Dusun Ta’deang, Desa Samanggi Kec. Simbang

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros

Transportasi : Makassar-Ta’deang (Rp. 5.000-/orang)

Waktu tempuh : ± 3 jam.

Base Camp : Ta’deang, Maros

Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).

Sumber Air : Sungai Pattunnuang

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama



6. Gua Anjing

Jenis Gua : Horisontal

Kondisi Gua : Berlumpur-Berair

Panjang Total Gua : ± 400 meter

Jenis Batuan : Gamping

Letak Administratif : Dusun Ta’deang, Desa Samanggi Kec. Simbang

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros

Transportasi : Makassar-Ta’deang (Rp. 5.000-/orang)

Waktu tempuh : ± 3 jam.

Base Camp : Bislab, Maros

Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).

Sumber Air : Sungai Pattunnuang

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama




7. Gua Saloaja

Jenis Gua : Horisontal

Kondisi Gua : Berair

Panjang Total Gua : ± 800 meter

Jenis Batuan : Gamping

Letak Administratif : Dusun Pattunuang, Desa Samanggi Kec. Simbang

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros

Transportasi : Makassar-Pattunuang (Rp. 5.000-/orang)

Waktu tempuh : ± 3 jam.

Base Camp : Bislab, Maros

Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).

Sumber Air : Sungai Pattunnuang

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama



8. Gua Kharisma

Jenis Gua : Horisontal

Kondisi Gua : Kering

Panjang Total Gua : ± 330 meter

Jenis Batuan : Gamping

Letak Administratif : Dusun Kappang, Kec. Simbang

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros

Transportasi : Makassar-Kappang (Rp. 6.500-/orang)

Waktu tempuh : ± 3,5 jam.

Base Camp : Kappang, Maros

Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).

Sumber Air : Mata Air, Km. 58

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama



9. Gua Saleh

Jenis Gua : Horisontal

Kondisi Gua : Kering

Panjang Total Gua : ± 300 meter

Jenis Batuan : Gamping

Letak Administratif : Desa Pangia, Kec. Simbang

Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros

Transportasi : Makassar-Pangia (Rp. 6.000-/orang)

Waktu tempuh : ± 3 jam.

Base Camp : Leang Rakko, Maros

Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).

Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung

Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama




10 Gua Pamelakang Tedong (Tempat Pembuangan Kerbau)

Panjang Total : 151,11 meter

Jenis Batuan : Gamping

Kondisi Gua : Berair.

Ketinggian : ± 25 m dpl

Letak Administratif : Dusun Bellae, Desa Biraeng, Kec. Perwakilan Minasatene.Kabupaten Pangkep

Jalur Medis Terdekat : Puskesmas Setempat



11. Gua Katalangang Erea I (Gua Yang Tegelam)

Panjang Total : 188,01 meter

Jenis Batuan : Gamping

Kondisi Gua : Berair.

Letak Administratif : Dusun Bellae, Desa Biraeng, Kec. Perwakilan Minasatene.Kabupaten Pangkep.

Akses ke Lokasi : Berada pada tebing yang berjarak ± 1,5 km dari jalan raya.

12. Gua Loko Tojolo (Gua Orang-orang Dulu)

Letak Administratif : Dusun Buntu Kayan, Desa Sumilan, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang.

Kwasan Karst : Enrekang

Gunung Terdekat : Buttu Kayan

Akses ke Lokasi : Dari Sudu ke Cece (dgn kendaraan) menuju ke Sumilan. Dari Desa Sumilan menuju Buttu Kayan (jalan kaki).

Gua horizontal (panjang) : meter

Gua vertikal (dalam) : meter

Bahaya Penelusuran Gua : Licin



13. Gua Rabun (Gua Kematian)

Letak Administratif : Dusun Tangsa, Desa Benteng Alla, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang.

Kawasan Karst : Enrekang

Gunung Terdekat : Buttu Alla

Akses ke Lokasi : Dari Sudu ke Desa Tangsa (dgn kendaraan) menuju ke lokasi gua (Benteng Alla).

Derajat kesulitan : Sedang

Pencaharian rakyat : Petani, Pedagang dijadikan sebagai kuburan Termasuk gua kering.

Sedimen Gua : Tanah

Kerusakan gua yaitu : Pembakaran.

Thursday, 24 July 2014

Dasar-dasar Memetakan GOA Vertikal dan HorizontalGOA

Di daerah soppng mungkin kita susah untuk menemui sesuatu yang namanya GOA. Akan tetapi baru-baru ini saya dan teman-teman telah melakukan penelesuran GOA di GOA CODDONG.
walaupun itu bukanlah merupakan penelususran, disitu kami hanyalah melihat bagaimana itu GOA. Ternyata goa itu merupakan sesuatu yang mistis. banyak masyarakat yang mengenggapnya sesuatu yang dapat disembah bahkan ada sekelompok orang yang mengagunmkan GOA itu...
Ini merupakan documentasinya....

untuk lebih mengetahui tentang pemetaan peta horizontal silahkan open this.....



Jika ingin download file lengkapnya silangkan open this......




Untuk melihatnya secara full silangkan klik disitu.....

https://drive.google.com/file/d/0B9kbSPx3wJ-abm13SktIWnVwbHM/view?usp=sharing

Silahkan klick link dibawah untuk mendowload dokumen diatas....

Download

Sekian Postingan yang saya buat ini. semoga ini dapt menjadi pelajaran bersama dan kita bisa sukses bersama.

Tuesday, 10 June 2014

Menggunakan Alat Ukur Sudut sederhana dalam Pemetaan GOA

Mungkin kita tidak pernah melakukan hal-hal sekecil ini. namun banyak orang yang menyia-nyiakan kesempatan ini. karena ini merupakan kesempatan terbesar kita untuk lebih mengenal Allah swt. melalui ciptaan-ciptaannya. olehnya itu kita bisa melakukan sesuatu agarkita bisa memuaskan diri kita sendiri.

Menbahas tentang pemetaan gua sederhana menggunkan alat ukur yang sederhana pula akat di bahas di file dibawah ini.

Jika ingin download file lengkapnya silangkan open this......




Untuk melihatnya secara full silangkan klik disitu.....

https://drive.google.com/file/d/0B9kbSPx3wJ-abm13SktIWnVwbHM/view?usp=sharing

Silahkan klick link dibawah untuk mendowload dokumen diatas....

Download

Sekian Postingan yang saya buat ini. semoga ini dapt menjadi pelajaran bersama dan kita bisa sukses bersama.

Sunday, 23 March 2014

Tali dan Simpul

Biasa dengar kata tali dan simpulkan. jika ada tali maka itu ada kaitannya dengan simpul. apabila ada simpul maka itu berkaitan dengan tali. ada yang tau nggak perbedaan tali dan sampul

Tali adalah serat yang dirajut dan mempunyai kekuatan tertentu sesuai dengan diameternya.
Sedangkan
Simpul adalah ikatan pd tali atau benang.

klo fungsinya kan udah tau... tali dipakai untuk mengikat dan simpul memakai tali...hehehehehe......

 Fungsi dan Type Tali :
- Alat pendukung utama kegiatan evakuasi di lingkungan vertikal
- Tali Rescue yang sering digunakan adalah Syntetis Fiber kermantel

PERAWATAN TALI
a. Hindari memotong tali kecuali memang mengharuskan
b. Jangan meninggalkan ikatan pada tali saat menyimpan
c. Hindari gumpalan di ujung tali
d. Gunakan ukuran yang tepat di pulley
e. Hindari hentakan tiba-tiba dan ketegangan terlampau kuat pada tali
f.  Hindari terkena lompatan batu atau terinjak
g. Hindari melewatkan tali pada tikungan yang tajam atau permukaan yang kasar
h. Tali yang terkena lumpur atau pasir harus segera dicuci dengan air yang mengalir
i.  Jangan mengeringkan tali dengan api atau matahari
j.  Simpanlah Tali dalam kantong
k. Tali yang cacat atau rusak harus diberi lebel
l.  Jangan menempatkan tali terkena sinar matahari langsung
m. Hindari tersentuh dengan bahan kimia yang mencemarkan seperti : lemak, gemuk, oli, minyak, bensin, minyak hidraulic, dll.

 MENCUCI TALI
1. Gunakan air yang mengalir
2. Jangan mencuci dengan sabun
3. Gunakan busa untuk membersihkan tali

Mengeringkan Tali
1. Keringkan tali dengan adanya sirkulasi udara
2. Bentangkan tali antara dua tiang
3. Gunakan tangga

 PEMERIKSAAN
a. Pemeriksaan dengan menilai secara visual
   > Warna filamin yang memudar
   > Tampak lembek dan lembut
   > Filamin tampak putih. Dimana sarung telah rusak
   > Tampak tidak seragam
   > Terkikis
b. Pemeriksaan dengan merasakan / meraba
   > Filamin kakau
   > Perubahan ukuran
   > Contaminasi

 Adapun sebagai Type dari tali yaitu ;

CORD / PRUSIK
Adalah Tali kern mantel statik yang berdiameter kurang dari 9 mm digunana untuk GRASP FRICKTION KNOT
- Fungsi :
Prurik loop, Ikatan plate, Pengikat edge roller dan matras

 PITA / WEBBING
ADALAH ALAT SERBA GUNA BAGI RESCUER UNTUK PENGIKATAN ATAU SLING
- Fungsi : Sling, Improv Harnest, Lissing korban, Pijakan kaki, ikatan pada anchor point


 Simpul


ini cuma reviewnya aja... oh iya, untuk lebih lanjutnya agan-agan bisa lansung liat aja materi yang di komperes dalam bentuk presentasi berikut ini :



Silahkan klick link dibawah untuk mendowload dokumen diatas....


tunggu event-event selajutnya. berikut mungkin akan lebi bermanfaat bagi-agan-agan..........

Wednesday, 1 August 2012

SRT (Single Rope Technique)

Goa
ascendmenurut bentukan alamnya terbagi atas dua jenis, yaitu goa vertikal dan goa horizontal. Penelusuran goa horizontal dapat dilakukan dengan cara biasa, yaitu berjalan, merangkak, merayap, berenang, atau bahkan menyelam (cave dive). Sementara dalam penelusuran goa vertikal, dibutuhkan teknik khusus SRT (Single Rope Technique) yaitu teknik untuk menuruni kedalaman goa vertikal menggunakan satu tali.

Single Rope Technique (SRT)
adalah teknik yang dipergunakan untuk untuk menelusuri gua-gua vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan-edan vertikal. Berbagai sistem telah berkembang sesuai dengan kondisi medan di tempat lahirnya masing-masing metode. Namun yang paling banyak dipergunakan adalah Frog Rig System. Teknik yang lain adalah: Rope walker, Texas Rig, Jumaring, Mitchele System, Floating cam system.
Sistem Frog Rig menggunakan alat:
1. Seat harness, dipergunakan untuk mengikat tubuh dan alat-alat lain. Dipasang di pinggang dan pangkal paha. Jenis-jenisnya adalah: Bucklet, Avantee, Croll, Rapid, dan Fractio.
Seberapa ketat pemakaian seat harness ini tergantung pada kebiasaan
51eQUofMUmL._AA280_001
2.Chest Ascender,
dipergunakan untuk memanjat (menaiki) lintasan atau tali dipasang di dada. Dihubungkan ke Delta MR oleh Oval MR
asc119-500002
3. Hand Ascender,
dipergunakan untuk memanjat (menaiki) lintasan atau tali di tangan. Di bagian bawah dipasang descender, tempat digantungkannya foot loop dan cows tail.
4. Descender, dipergunakan untuk menuruni tali. Ada beberapa jenis descender: Capstand (ada dua macam: Simple Stop dan Auto Stop), Whaletale, Raple Rack (ada dua macam: Close Rack dan Open Rack), Figure of Eight, dan beberapa jenis lagi yang prinsip kerjanya sama dengan figure of eight.
5. Mailon Rapid,ada dua macam Mailon Rapid (MR), yaitu: Oval MR untuk mengaitkan Chest Ascender kepada Delta MR. Delta MR sendiri adalah untuk mengkaitkan dua loop Seat Harness dan tempat mengkaitkan alat lain seperti Descender berikut Carabiner sebagai friksinya dan Cowstail.
6. Foot loop , dicantolkan ke karabiner yang terhubung ke hand ascender. Berfungsi sebagai pijakan kaki. Ukuran dari foot loop harus tepat seperti gambar diatas. Hal ini sangat mengurangi kelelahan pada waktu ascending di pitc-pith yang panjang
tractelpg28-LeftRightAscend003
7. Cows tail,memiliki dua buah ekor. Satu terkait di Hand Ascender, dan satu lagi bebas, dipergunakan untuk pengaman saat melewati lintasan-lintasan intermediate, deviasi, melewati sambungan, tyrolean, dan traverse.
palm-cow-tail-rescue-equipment-l

8. Chest harness,
vario_chest
untuk melekatkan Chest Ascender agar lebih merapat ke dada. Sehingga memudahkan gerakan sewaktu ascending normal, atau pada saat melewati sambungan tali. Chest harness lebih baik jika dapat diatur panjang pendeknya (adjustable), sehingga memudahkan pengoperasian, terutama apabila terjadi kasus dimana Chest Ascender terkunci di sambungan atau simpul, atau pada saat rescue.
Teknik-teknik yang harus dipelajari untuk SRT adalah ascending dan descending dengan penguasaan melewati jenis-jenis lintasan dan medan.
1. Melewati intermediate anchor
2. Melewati deviation anchor
3. Melewati sambungan tali
4. Melewati lintasan tyrolean, menggunakan satu tali dan dua tali.
5. Meniti tali dengan medan slope (miring).
Ascending
004
Perhatikan gerakan telapak kaki ketika sedang ascending.
005
Gerakkan telapak kaki untuk menjepit tali dengan telapak kaki. Cara pertama adalah menjepit tali menggunakan bagian dalam pergelangan kaki dengan bagian luar telapak kaki. Cara kedua adalah menjepit tali dengan kedua telapak kaki ketika melakukan gerakan berdiri. Ketika mengangkat kedua kaki, kedua telapak kaki dibuka.

Goog Luck........

Teknik Penelusuran Goa Horisontal

Medan pada gua horisontal sangat bervariasi, mulai pada lorong-lorong yang dapat dengan mudah di telusuri, sampai lorong yang membutuhkan teknik khusus untuk dapat melewatinya.
A. Lumpur.
Lorong yang berlumpur dapat dengan mudah kalau lumpur tersebut tidak terlalu tebal. Tapi dalam kondisi lumpur setinggi lutut bahkan sampai setinggi perut, kita tidak mudah untuk melaluinya.
Untuk melewatinya kita bergerak dengan posisi seperti berenang. Dengan posisi seperti ini akan lebih mudah bergerak dan menghemat tenaga.
B. Air.
Untuk kondisi lorong gua yang berair. terutama gua yang belum pernah di masuki kita tidak mengetahui kedalaman air dan kondisi di bawah permukaan air, untuk itu kita harus mengetahui prosedur dan mempunyai fasilitas pendukung.
Syarat utama untuk melewati lorong yang berair adalah harus bisa berenang. Tetapi dengan kondisi lorong yang serba terbatas, teknik berenang dalam gua berbeda dengan berenang di kolam renang. Di sini kita memakai pakaian lengkap, sepatu bahkan mungkin membawa beban yang cukup berat.
Pembagian team juga harus di sesuaikan, untuk leader ia tidak boleh membawa beban berat, karena leader harus membuat lintasan dan mempelajari kondisi medan.
Dalam kondisi tertentu kita menggunakan pelampung, perahu karet terutama untuk lorong yang panjang dan berair dalam.
Ada juga lorong yang hampir semua di penuhi oleh air hanya ada ruangan sedikit yang tersisa. Untuk melewatinya kita harus melakukan DUCKING ( kepala menengadah). Kadang-kadang kita harus melepas helm untuk menambah ruang gerak kepala. Dalam kondisi tertentu kita melakukan ducking dengan jongkok, bahkan dengan berbaring kalau badan tidak dapat masuk seluruhnya.
Diving, adalah teknik penyelaman dengan alat bantu pernafasan dan pakaian khusus. Teknik ini di lakukan pada lorong yang seluruh bagiannya tertutup oleh air (sump, siphon). Untuk perbandingan resiko kematian di cave diving adalah 60% tewas. Sedang resiko caving 15 %. Dengan melihat perbandingan resiko kematian yang besar ini kita di tuntut untuk ekstra hati-hati, seyogyanya tidak meneruskan penelusuran jika tanpa alat pendukung yang standart.
C. Climbing.
Dalam suatu penelusuran gua terkadang kita menjumpai adanya water fall ataupun lorong yang terletak di atas kita. Untuk dapat meneruskan penelusuran kita harus menggunakan teknik-teknik Rock Climbing. Seperti memasang pengaman sisip dan bor tebing untuk pembuatan lintasan, yang melakukan adalah leader dan kemudian anggota yang lain melewatinya dengan SRT. Teknik rock climbing harus bisa di lakukan pada kondisi medan seperti :

  •  Aliran air yang deras dan kita tidak mengetahui kedalamannya.
  •  Gua yang berbentuk celah dan menyempit bagian dasarnya
  •  Sungai besar atau danau yang dalam.
  •  Pemasangan rigging pada waterfall.
  •  Menghindari calcite floor atau oolith floor.

Bahaya-Bahaya Saat Melakukan Penelusuran Goa

Survival dalam caving tidaklah dimungkinkan, oleh karena itu kecelakaan di dalam gua selalu berakibat fatal. Karena dilakukan dalam keadaan gelap total maka tingkat kesulitan dan resiko setiap aktifitas adalah 2 kali lipat daripada di luar gua. Apalagi di Indonesia belum ada (belum mampu) membentuk suatu tim rescue (SAR) gua baik secara lokal maupun nasional walaupun telah banyak gua dibuka sebagai obyek wisata. Di luar negeri fasilitas SAR adalah sarana mutlak bagi penyelenggaraan suatu obyek wisata gua.


NSS USA menyebutkan usia minimum penelusur gua (profesional dan amatir)adalah 20 tahun sebagai batas psikologis (kecuali beberapa gua wisata khusus mengijinkan siswa SD masuk). Alasan utamanya karena 90% kejadian kecelakaan menimpa mereka dengan klasifikasi "Young (Teenager) Male Unafiliated Novice" (Remaja/anak laki-laki belasan tahun yang tidak terlatih dan tidak terdaftar pada kelompok speleologi resmi). Namun di Indonesia tidak ada ketentuan batasan umur, bahkan di daerah tertentu seperti di Karang Bolong Jawa Barat remaja belasan tahun telah memasuki gua untuk menambang kapur atau sarang burung walet dengan peralatan tradisional. Maka jelas sekali bahwa kestabilan emosional dan keterlatihan/keterampilan yang memadai adalah syarat utama keselamatan penelusuran. Bahkan secara internasional syarat keterampilan ini seharusnya dinyatakan dalam bentuk sertifikasi yang dikeluarkan melalui kursus / pelatihan resmi oleh Federasi Speleologi setempat (di Indonesia adalah HIKESPI).

Oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila kalangan penelusuran gua memiliki motto keselamatan "SEDIA PAYUNG SEBELUM MENDUNG" sehingga tidak cukup bersiaga dikala ada gejala bahaya namun justru jauh sebelum itu. Maka estimasi perubahan situasi harus senantiasa diperhatikan. Tingginya jam terbang, pengetahuan, keterampilan dan senioritas tidak cukup dijadikan patokan keamanan karena apa yang bakal dihadapi di dalam gua tidak seorangpun dapat memastikan. Etika pencegahan kecelakaan adalah :

Tidak memaksakan menelusuri gua bila badan kurang sehat.
Keterampilan kurang terutama pada gua vertikal.
Peralatan tidak lengkap, kurang terawat dan sudah uzur.
Kesiapan mental kurang (sedang patah hati atau stress).
Anggota terlemah adalah patokan standar penelusuran, apabila anggota terlemah mengalami gangguan maka saat itu juga penelusuran harus dihentikan tanpa dapat ditawar lagi.
Jumlah anggota kelompok tidak kurang dari 4 orang.
Jangan masuk gua di musim hujan, seorang penelusur gua pada masa ini biasanya cuti kegiatan dan hanya diisi dengan latihan ringan atau memperdalam pengetahuan.
Mintalah ijin kepada orang tua dan aparat daerah setempat dan instansi terkait sekaligus berpamitan dengan sejujurnya tentang tujuan dan lokasi kegiatan, perhatikan dengan cermat serta patuhi segala wejangan atau nasihat mereka.

Tinggalkanlah pesan sebagai berikut :
Hari, tanggal
Nama pemimpin kelompok, alamat, no. telepon
Nama, alamat, telepon anggota lain
Tujuan memasuki gua : ILMIAH/OLAH RAGA/WISATA
Nama gua, lokasi : (dukuh, desa, kecamatan, kabupaten).
Mulai masuk gua pukul, rencana keluar pukul
APABILA SAMPAI PUKUL ..... BELUM KELUAR GUA MAKA MUNGKIN TELAH TERJADI KECELAKAAN MAKA HARAP SEGERA MELAPOR KEPADA LURAH,
POLISI DAN MEMINTA BANTUAN DENGAN MENGHUBUNGI: - NAMA, ALAMAT, NOMER TELEPON, NAMA, ALAMAT, NOMER TELEPON SEGALA PERONGKOSAN/UANG YANG DIPERLUKAN UNTUK MENERUSKAN BERITA INI AKAN DIGANTI DUA KALI LIPAT. TERIMA KASIH.
Formulir ini diberikan kepada pejabat dan instansi berwenang setempat dan ditempel di kaca mobil.

Macam-macam bahaya
Terjatuh, seringkali akibat kesalahan estimasi terhadap jarak (distorsi) karena gelap. Melompat adalah hal yang haram dalam kegiatan penelusuran gua. Kekurangan oksigen dan gas beracun, lorong penuh kelelawar atau tumpukan guano, banyak terdapat akar pohon menjulur, tidak berair, berbau belerang dan pengap harus dihindari karena penuh dengan kandungan gas beracun seperti CO dan HS. Tanda-tanda umum kurangnya oksigen atau serangan gas racun biasanya terjadi pening dan halusinasi. Keruntuhan atap dan meledak, adalah kejadian tak terduga yang tidak dapat dihindari bisa diakibatkan gempa bumi atau ledakan dalam gua (jangan membuang sisa karbit dalam gua atau masuk ke lorong penuh guano dengan lampu karbit). Untuk menghindarinya perhatikan apakah lokasi tersebut merupakan bekas penambangan kapur atau dekat dengan lokasi peledakan dinamit sebuah proyek. Banjir, bisa dideteksi bila terdengar suara gemuruh dalam lorong, air sungai yang terasa hangat dan terlihat sampah hanyut dalam aliran air. Perhatikan batas air di dinding sehingga dapat diperkirakan ketinggian air saat banjir, tentukan juga sebuah lokasi atau cekungan di atas batas banjir sebagai tempat berlindung darurat bila terjebak banjir Hewan berbisa, walaupun menurut pakar biospeleologi mereka ini hidup di daerah mulut gua sampai 100 m. ke dalam namun bisa saja hewan seperti ular ditemui jauh di dalam gua karena terhanyut aliran air atau terperosok ke dalam dari atap atau ventilasi gua. Hindarilah cekungan dan lobang di sekitar mulut gua karena di tempat itu mereka bersarang. Bahaya lain adalah gigitan atau kelelawar dapat mengakibatkan rabies, kotorannya (guano) menyebabkan histoplasmosis (penyakit jalan pernafasan seperti TBC). namun umumnya hewan gua tidak mengganggu.

Eksposure, hipotermia dan dehidrasi sangat mungkin terjadi akibat terpaan angin kencang dari aven (ventilasi gua atau jendela karst), baju yang basah karena berendam terlalu lama dalam air gua. Dehidrasi dapat dihindari dengan jalan minum sebelum haus (ingat sedia payung sebelum mendung) karena minum di saat haus datang berarti sudah sangat terlambat karena lebih dari 25% cairan tubuh telah lenyap, ingat penguapan cairan dan panas tubuh dalam gua terjadi sangat cepat tanpa terasa (bahkan dapat dilihat dengan jelas uap air yang keluar dari tubuh bila dilihat dengan sorot lampu)
Kegagalan peralatan, kelengkapan dan kecanggihan peralatan bukan jaminan apabila tidak diikuti dengan perawatan dan pengetesan rutinBahaya terbesar bagi penelusur gua 99% justru adalah di jalan raya, kelelahan akibat padatnya jadwal penelusuran mengurangi konsentrasi pada saat mengemudi. Jalan terbaik sewalah pengemudi profesional yang tidak terlibat dalam tim sebagai tenaga penunjang mobilitas.

Pengenalan Peralatan Penelusuran Gua (Caving)

Gua mempunyai kondisi dan medan yang sangat lain dengan kondisi alam lainnya. Medan lumpur, tumpukan batu (boulder), air terjun, lorong sempit, lorong yang rendah, dan terutama sekali karena kondisi gua yang selain gelap gulita. Karena begitu kompleksnya kondisi dan medan gua tersebut, maka untuk menelusuri gua tersebut diperlukan peralatan yang bisa mendukung untuk kondisi dan medan tersebut. Terutama sekali peralatan ini juga harus dapat menjamin keselamatan kita.

Pada dasarnya peralatan caving dibagi menjadi dua :

A. PERSONAL EQUIPMENT (pribadi), terdiri dari:

a. Helm Speleo
Helm yang digunakan dirancang untuk mampu menahan benturan maupun jatuhan batu. Helm ini dirancang mampu menahan jatuhan batu dari berbagai sisi tertentu dan ketinggian tertentu. Mempunyai bagian yang berupa pita yang adjustable digunakan untuk mengikatkan helm pada kepala kita. Pada bagian depan terpasang peralatan tambahan yang berfungsi sebagai alat penerangan.
b. Boom (Generator Carbide)
Alat ini berupa tabung yang dihubungkan dengan sebuah slang ke helm. Terdiri dari dua bagian, tabung alas berguna untuk menampung air, yang dilengkapi dengan regulator saluran gas dan lubang tempat pengisian air. Tabung bawah digunakan untuk mengisi karbit.

c. Alat penerangan, ada dua macam:
Ø Elektrik : senter, head lamp
Ø Non elektrik: karbit, lilin

d. Cover All
Adalah sebuah pakaian khusus untuk penelusuran gua. Pakaian ini pada bagian baju dan celana tersambung jadi satu. Bagian atas berlengan panjang. Terbuat dari bahan parasut yang tidak terlalu tebal, dengan bagian-bagian yang sering mendapat gesekan dibuat dengan bahan yang Iebih tebal. Pakaian ini berfungsi untuk melindungi tubuh kita dari gesekan dan menahan panas tubuh kita pada gua yang berair.
e. Sepatu
Sepatu yang biasa digunakan adalah sepatu karet dan scpatu yang biasa digunakan militer. Keduanya punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing.
f. Sarung tangan
Berfungsi untuk melindungi tangan dari panas karena gesekan tali. ataupun melindungi tangan dari gesekan dengan dinding gua yang tajam dan kasar.

g. Pelampung
Peralatan ini biasa digunakan di gua yang memiliki kedalaman air tanah yang cukup dalam, pelampung digunakan untuk menghindari atau menyelamatkan dari kondisi tenggelam.
h. SRT set.
Peralatan ini menjadi peralatan pribadi untuk efisiensi tenaga dan efektifitas penelusuran, karena beberapa peralatan yang ada disesuaikan dengan ukuran tubuh pemakai. Dalam satu set SRT tcrdiri dari:
1. Seat Harness digunakan untuk mengikat tubuh yang dipasang pada pingggang dan paha, macam dan hentuk dari seat harness yang biasa di pakai adalah :
Ø Avanti
Ø Croll
Ø Rapide.
Ø Fractio

2. Ascender, peralatan ini digunakan untuk naik atau memanjat lintasan (tali), ascender dibedakan menjadi hand ascender digunakan untuk dipegang ditangan dan chest ascender, digunakan dengan diikatkan di dada, macamnya:
Ø Hand jammer
Ø Croll
Ø Basic jammer
Ø Jummar
3. Descender, digunakan untuk memuat lintasan (tali), ada banyak descender yang bisa digunakan:
Ø Capstand : ada dua jenis, yaitu simpel stop descender (bobin / non auto stop) dan auto stop descender.
Ø Whaletail, biasa digunakan para caver di Australia .
Ø Rack, ada dua macam yaitu open dan close rack.
Ø Figure of eight descender
4. Maillon Rapide (MR), ada tiga macam
Ø Delta MR digunakan untuk menyambung ( dua loop) sit harness
Ø Semi Circulair MR digunakan untuk menyambung ( dua loop) sit harness.
Ø Oval MR, diguanakan untuk menyambung chest ascender dengan delta MR atau semi sirkuler MR.
5. Chest Harness, digunakan unhik mengikatkan sit harness dengan dada.
6. Cows tail, dibuat dengan tali dinamik yang disimpul dengan salah satunya tali lebih pendek. Tali yang pendek digunakan sebagai pengaman/tambatan pengaman. Tali yang panjang digunakan untuk menghubungkan Hand ascender dengan tubuh. Dikedua ujung cowstail tersebut dipasang 2 karabiner delta non screw.
7. Foot loop, digunakan untuk pijakan kaki dan dihubungkan dengan ascender. Ada beberapa macam bentuk foot loop yang biasa digunakan.
B. TEAM EQUIPMENT (peralatan tim), terdiri dari :
a. Tali.
Tali yang digunakan harus benar-benar mempunyai kwalitas yang balk dan memerlukan perawatan yang baik pula. Jenis tali Tali di bagi menjadi :
Ø Hawsterlait Jenis ini tidak dipakai dalam penelusuran gua vertical. Berbentuk Iilitan dari bahan nylon.
Ø Kernmantel Disebut jenis kernmantel karena mempunyai dua bagian yaitu bagian kern (bagian dalam/ inti), dan mantel (bagian luar/ pembungkusnya). Untuk vertical caving digunakan jenis static rope. kekuatan tali yang digunakan biasanya harus mengalami uji kekuatan terlebih dahulu. Tali yang biasa dipakai mempunyai kekuatan standard ba ik yang telah lulus uji dari UIAA (Union International Associate de Alpinisme) adalah sesuai dengan diameter tali tersebut yaitu :
Kekuatan Tali = A2 X 22 kg > A=diameter tali (mm) Kekuatan tali ini akan berkurang karena penggunaan simpul, basah, dan pemasangan lintasan yang salah.
b. Ladders
Ladders atau tangga tali biasanya terbuat dari kawat baja atau dari tali dengan diameter tertentu (lebih kecil dari diameter tali yang digunakan untuk vertical caving). Ladders sangat efektif untuk digunakan pada pitch pendek, dengan bentuk lintasan overhang.
c. Tali Pita (Webbing)
Berbentuk tabung ataupun pipih (plate), sangat berguna untuk pemasangan tambatan alam, deviasi, maupun bentuk tambatan lainnya. Lebar webbing yang dianjurkan untuk digunakan lebih besar atau sama dengan 30 mm. Ukuran 25 mm jangan sekali-kali digunakan. Dengan simpul tertentu kedua ujung webbing ini disambungkan untuk kemudian dijadikan penambat.
d. Padding
Padding adalah pelindung tali dari gesekan. Biasanya dibuat bahan kaltun terpal yang radial. yang kuat menerima gesekan.
e. Carabiner (cincin kait)
Fungsi alat ini sebagai pengait. Carabiner mempunyai beberapa macam bentuk sesuai dengan kegunaan dan fungsinya. Tiap produk carabiner yang ada telah mengalami uji kekuatan dari pabriknya untuk tarikan vertical maupun horisontal. Berdasarkan pengamannya carabiner dibagi menjadi dua :
Ø Carabiner Screw Gate : Jenis ini mempunyai pengunci pada pintu atau gerbangnya.
Ø Carabiner Non Screw Gate: Jenis ini tidak mempunyai pengunci pada pintu atau gerbangnya
berdasarkan bentuknya carabiner dibagi menjadi:
v Oval Carabiner, Jenis ini dirancang jika mendapat beban maka kedua sisinya (sisi utuh, maupun sisi pintu) mendapat beban yang sama.
v Delta Carabiner, Jenis ini dirancang jika mendapat beban maka kedua sisinya (sisi utuh, maupun sisi pintu) mendapat beban yang berbeda. Sisi utuh mendapat beban Iebih besar da ri pada sisi pintu.
v D Carabiner, Jenis ini dirancang jika mendapat beban maka kedua sisinya (sisi utuh, maupun sisi pintu) mendapat beban yang berbeda. Sisi utuh mendapat beban Iebih besar dari pada sisi pintu.
v A Carabiner, Jenis ini dirancang jika mendapat beban maka kedua sisinya (sisi utuh, maupun sisi pintu) mendapat beban yang berbeda. Sisi utuh mendapat beban lebih besar dari pada sisi pintu.
v Hart Carabiner, Jenis ini dirancang jika mendapat beban maka kedua sisinya (sisi utuh, maupun sisi pintu) mendapat beban yang sama.
f. Pengaman Sisip
Pengaman Sisip adalah peralalan tambahan untuk membuat tambatan. Penggunaan pengaman sisip sangat tergantung pada bentuk bawaan batuannya. Pemasangan yang bagus dan tepat sangat menentukan kekuatannya, tetapi perlu diperhatikan pada waktu akan dilewati jangan sampai terangkat kearah luar. Pengaman sisip yang sering digunakan adalah:
1. Chock Stopper, Jenis ini berbentuk piramida tumpul. Bisa digunakan untuk celah vertical maupun horisontal.
2. Hexentrik, Bisa digunakan untuk celah vertical maupun horisontal.
3. Friend, Jenis ini digunakatn untuk dibebani secara vertical.
4. Chock Stone, Jenis ini bekerja seperti pengaman sisip lainnya. Bisa terpasang dengan sendirinya ( batu yang terjatuh lalu terjepit pada celah), maupun sengaja dipasang.
5. Jammed Knot, Tehnik yang memasang pengaman sisip dengan menggunakan simpul pada webbing.
Pengamanan atau pemasangan pengaman sisip harus selalu dilatih untuk mengetahui / mendapatkan instink pemasangan yang benar dan aman, mengetahui bentuk berbagai bentuk celah yang disesuaikan dengan bentuk pengaman sisip yang digunakan.
Pengaman sisip yang talinya menggunakan nylon harus Iebih mendapat perhatian, karena lebih tidak tahan jika mendaluucur gesekan dibandingkan dengan yang mengggunakan kawat baja.
g. Paku Pitton
Adalah salah satu bentuk pengaman tambahan yang berbentuk seperti palm, yang ditanamkan pada celah vertical maupun horisontal. Piton akan sangat berguna pada beberpa jenis batuan, dart dengan pengalaman yang cukup untuk penelusuran gua vertical.
Penempatan pitton harus dengan cermat dan hati-hati, penempatan yang baik adalah te.gak lurus dengan bidangnya pemilihan jenis pitton harus sesuai dengan bentuk celahnya (vertical/ horisontal). Pitton dipasang dengan dipukul menggunakan hammer speleo, bunyi benturan pada saat dipukul antara pitton dengan batuannnya bisa dipakai untuk menentukan kekuatan pemasangan pitton tersebut.
h. Bolts
Pada penelusuran gua vertical jika kita tidak bisa menemukan natural anchor, maupun pemasangan pengaman sisip lainnya, maka satu- satunya pilihan adalah pemasangan bolts (bor tebing). Dengan bolts maka penelusur gua bisa menempatkan titik tambatan di tempat yang diinginkan.
Ukuran yang digunakan biasanya disesuaikan dengan jenis batuan yang akan dibor maupun beban yang akan diterima, ukuran standard yang biasa digunakan adalah 3 mm.
i. Hanger
Peralatan ini adalah pasangan dari bolts. Hanger ini digunakan untuk menambatkan tali. Bentuk-bentuk yang ada disesuaikan dengan medan yang ada Macam hanger yang ada :
Ø Plate Hanger
Jenis ini digunakan untuk dinding yang tidak over hang, carabiner yang digunakan adalah carabiner oval, sisi carabiner harus selalu menempel dinding.
Ø Twist Hanger
Jenis ini digunakan untuk dinding over hang maupun untuk roof, carabiner yang digunakan bisa carabiner oval maupun carabiner delta
Ø Ring Hanger
Jenis ini digunakan untuk untuk dinding over hang maupun dinding lurus. Carabiner yang digunakan bisa carabiner oval maupun carabiner delta, juga bisa tanpa catabiner.
Ø CIown Hanger
Jenis ini bisa digunakan di semua bentuk rnedan, hanger ini tidak menggunakan carabiner.
j. Driver
Digunakan untuk mengebor dinding/tebing
k. Hammer
Digunakan untuk mengetes batuan yang akan digunakan untuk anchor, maupun untuk mengebor tebing.
l. Tackle Bag
Tas khusus untuk penelusuran gua, terbuat dari bahan terpal yang tahan gesekan.
m. Pulley
Berbentuk kerekan, yang prinsip kerjanya untuk memperingan penarikan beban. Biasanya digunakan untuk rescue.
n. Alat Bantu
Ø. Roll module
Ø. Bombement Deviatur